Catatan MaHe

Di Ambang September

Seperti memasuki rumah masa kecil. Bulan ini menyimpan banyak kenangan yang hangat. Melumer seperti mentega yang tergelincir oleh kehangatan bolu panggangan ibu. Aromanya masih menguar di setiap sel indera penciuman.. meski sudah melalui ribuan terbit dan tenggelamnya matahari.

Mungkin di hari Ini, puluhan tahun silam, ibu tengah membayangkan, seperti apa wajahku nanti. Waspada, gelisah, was-was.. menanti kehadiran buah cinta ayah yang mengendap genap sembilan bulan di rahimnya. Tersenyum bahagia merasakan setiap tendangan sebagai bahasa tak bicara, bahwa aku dan Ibu saling merindu, dan tidak sabar bertemu untuk pertama kali.

Di ambang September,
Aku selalu merasakan ini. Perjalanan puluhan kota, ribuan jarak dan diam selalu memberikan sebuah biru yang telak mengharukan hati. tahun-tahun yang jauh, sentuh tangannya hanya hadir dalam mimpi. Aku rindu.. tapi harus kupendam sendiri. Cinta dan kasih tidak terbatas pada ukuran materi, hatiku dan hatinya sedekat urat nadi.

Sepi tercipta seiring langkah yang semakin berani menapaki hidup. Padahal langkah mungil dulu, begitu tertatih menggapai pelukannya, di sebuah pekarangan rumah dipenuhi cahaya surya keemasan.. disebuah kehangatan keluarga yang gemilang, sehabis dimandikan sore hari. Aroma bedak dan kayuputih, senyum bahagia.

Ah, September..
tahun-tahun terlewati, satu persatu harapan tumbuh dan menjadi tunas. Ada air mata, tawa bahagia, senyum duka.. Semua kenangan bersatu dalam sebuah album tahunan yang kubuka satu persatu, mencerminkan perjalanan panjang yang telah aku lewati.. dan kupungut makna yang terselip didalamnya.

September, Ibu, Matahari.

Tiga sumber kehidupan yang abadi. Awal dari perjalanan panjangku. Awal pencarianku.

-Repost from FB notes-