Catatan MaHe

:: Bolu Pandan ::

dibangunkan oleh lengkingan kambing-kambing yang siap tengah di potong untuk Qurban minggu depan, aku terjaga dari tidur ku yang memang sudah saatnya untuk memulai aktifitas siang hari, malam hari sudah terlewat beberapa jam yang lalu. Aku tidur mengambil jatah kegiatan siang hariku. well.. karena aku tidak mempunyai plan kmana2 pagi ini. Aku mencium aroma bolu pandan pagi ini, entah dari mana, padahal tidak ada yang tengahmemangganya. begitu ku membuka mata, saraf sensorik ku mendeteksi aroma bolu hijau yang teramat lezat itu, dan seketika membawa fikiranku pada sensasi ketika membaca supernova dan tengah berada di bab Diva yang tengah menjamu ferre di kebun kecilnya. tahu kah kamu, membaca buku itu sama nikmatnya dengan menikmati bolu pandan hangat pada suatu sore hari ditemani satu cangkir teh camomile.
ngomong-ngomong lengkingan kambing-kambing itu kurasakan tidak seperti biasanya. kali ini lebih tipis, lebih mendengus, parau dan seperti menyimpan kegalauan. entahlah, apa itu hanya perasaan ku saja? apapaun itu yang pasti mengingatkan ku kembali pada memori bertahun-tahun yang lalu di tasikmalaya, ketika akan ada pemotongan hewan Qurban, aku selalu menyaksikan bagaimana hewan itu di giring ke gawang penjagalan, lalu kaki-kaklinya mulai dililiti tali, lantas ditarik menjadi satu ikatakn yang rapat antara kaki depan dengan kaki depan, dan kaki belakang dengan kaki belakang. ‘Brukkk’!
sang hewan Queban pun terbaring ke tanah dengan berdebum, tempo hari yang akiu lihat adalah penyembelihan Sapi.
Al : ‘ Karunya eung.’
Teman1: ‘ Tempo panon na, ceurik! ‘
Teman 2:’ Naha nya henteu kokosehan atawa ngamuk? sigana teh pasrah meureun nya?
teman 1 : ‘ Enya pan geus pasrah, manehna geus apaleun rek dikurbankeun.

– Kasiihan ya?
-lihat matanya, menangis
-kenapa kok tidak berontak? sepertinya pasrah ya?
-iya kan sudah pasrah, dia udah tahu mau di qorbankan.

si penjaga mulai mendekat dengan kilatan mata pisau di tangan kanan nya. akinya memsang kuda-kuda. si Sapi mengatupkan matanya sekali, kulihat bulumatanya basah. hatiku miris.. lalu si jagal mencengkram kulit leher si sapi, lantas menempelkan pisau tajamnya.
‘kresss…… Nguuuuuuuhhhh….’
Aku tidak menamatkan menyaksikan pembantaian yang menjadi tontonan itu. sapi itu yang di sembelih, kenapa aku yang sakit?