Catatan MaHe

One Hundred Twenty One Days of Cold Winter (and still counting)

Aku kira sudah sepenuhnya ikhlas. Aku kira sudah sepenuhnya merasa siap atas kepergiannya. Aku kira aku sudah paham betul bahwa kehilangan dan ditinggalkan adalah sebuah bagian lumrah dalam sebuah siklus kehidupan.

Ternyata tidak. Aku tidak siap. Aku belum bisa menerima. Aku masih sulit untuk percaya. Setelah seratus sekian hari semenjak terakhir bicara-berinteraksi bertatap mata dan mendengarkan suaranya, robekan dalam hati masih terus menganga dan malah terkadang semakin lebar. Aku kehilangan kata-kata seperti manusia kehilangan angka dalam menghitung volume semesta. Seluas itulah kepedihan yang aku rasa.

 Perpisahan pada Desember awal tahun duaribu duabelas, saat dia mengantarku naik angkot menuju terminal antar kota untuk kembali ke Jakarta, saat aku mencium tangan dan pipinya, ada sebuah firasat yang bergema di alam bawah sadar. Aku pikir itu hanya sebuah haru yang wajar terpikirkan setiap saat aku meninggalkannya, kekhawatiran yang kerap kali terjadi yang pada akhirnya semua baik-baik saja. Maka aku mengabaikan perasaan itu. Mengabaikan hati kecil yang berkata, ‘ aku takut kepergian ini menjadi yang terakhir dan tidak akan pernah lagi mendengar suaranya’. Dan hari-hari berikutnya berlalu sama seperti biasa hingga akhirnya pada suatu pagi di penghujung Desember. Dua hari menjelang tahun baru. Minggu dini hari, sebuah kejadian yang sangat aku sesali. telepon genggamku aku matikan dengan alasan ingin tidur tanpa gangguan setelah lelah seharian didera tuntutan kerjaan dan satu ketololan yang di asa depan nanti berujung penyesalan terpanjang menyaingi khatulistiwa. Dan saat aku terbangun siang itu, mataku terbuka persissetelah adegan dalam mimpi berakhir secara kabur. Ya, aku memimpikannya, dalam sebuah situasi sendu dan penuh pertanda. Ibuku terlihat sangat jelas dalam mimpi itu, sebuah kiasan dari kabar yang akan aku baca beberapa menit kemudian. “Ali pulang, mamah masuk rumah sakit.”

Detik berhenti. Jantung kehilangan tenaga pompa. Sebuah sengatan listrik langsung menyengat kepala. Aku berdiri dan melangkah keluar kamar dengan orientasi realitas yang masih sangat kabur.